“WAH”
Wah……….
Wah……….
Wah ladalah
Wah………
Sinar itu menyusup disela-sela lubang pertolongan
Hangat walau hanya bermakna ironis ditengah-tengah serbuan dingin musim pancaroba
Tangan-tangan pertolongan hanya sebatas ilusi
Keyakinan membunuh keputusasaan
Tangisan, hanya sebatas air mata darah nan mengering
Teriakan, hanya sebatas robeknya pita suara
Sudahlah semua hanya hiasan kehidupan
Sudah saatnya kita berkemas…. WAH….
Jogja, 16-06-2011
Filed under: Puisi, RenunganKu

