“Nerimo ing Pandum”

          Kenapa kadang kita kurang bisa bersyukur atas nikmat yang telah dilimpahkan Allah kepada kita. Kenapa kita selalu merasa bahwa apa yang telah kita terima tidak sesuai dengan kehendak kita. Kenapa kita slalu menuntut lebih akan nikmat yang telah diberikan. Kenapa dan kenapa selalu kurang dan kurang. Ya ampun betapa hina manusia seperti ini dan betapa tidak tau diri hambamu ini. Kenapa kita tidak pernah mengindahkan kata-kata bijak yang sering kita dengar dari orang-orang tua kita bahwa kita harus “Nerimo ing Pandum” (Menerima apa yang telah diberikan).

          Begitu tolol dan dungunya hambamu ini, begitu malu nya hamba mu kelak ketika pulang ke hadapanmu. Ya Allah ampunilah hambamu ini.

Musola kecil di tengah kampus

3 Tanggapan

  1. Nulis dan ngucapinnya yang mudah. Tapi ngelaksanainnya… sussah pangkat 10. Hanya orang-orang yang mendapat pertolongan dari-Nya yang mampu.

    Zaman sekarang gimana mau nerimo ing pandum? Pandum yang gimana?

    Banyak demo menentang kebijakan2 (sepihak) dimana-mana. Mulai dari buruh, mahasiswa, guru, tukang ojek, sopir, sampai perangkat2 desa macam RT & RW.

    Yang dapat dana BLT Rp 300 rb, ee… dipotong sekian puluh ribu buat ini buat itu. Yang susah ngomongin pandumnya itu.

  2. itulah yang saat ini kurasakan
    sedang merasa kurang …
    ya Alloh semoga rasa ini segera bangkit menuju rasa syukur

  3. Aphe_Joss pada firman
    Ya yang sabar ae coy,,, tak doa kan mg u segera bangkit menuju rasa syukur. amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: