Perpustakaan di Era Generasi Millennial

Perpustakaan di Era Generasi Millennial

(Andi Priyana, SIP.)

Pendahuluan

Merujuk pada penjelasan atas Undang-Undang Republik Indonesia nomor 43 tahun 2007 tentang perpustakaan yang berisi “Keberadaan perpustakaan tidak dapat dipisahkan dari peradaban dan budaya umat manusia. Tinggi rendahnya peradaban dan budaya suatu bangsa dapat dilihat dari kondisi perpustakaan yang dimiliki. Hal itu karena ketika manusia purba mulai menggores dinding gua tempat mereka tinggal, sebenarnya mereka mulai merekam pengetahuan mereka untuk diingat dan disampaikan kepada pihak lain. Mereka menggunakan tanda atau gambar untuk mengekspresikan pikiran dan/atau apa yang dirasakan serta menggunakan tanda-tanda dan gambar tersebut untuk mengomunikasikannya kepada orang lain. Waktu itulah eksistensi dan fungsi perpustakaan mulai disemai. Penemuan mesin cetak, pengembangan teknik rekam, dan pengembangan teknologi digital yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi mempercepat tumbuh-kembangnya perpustakaan. Pengelolaan perpustakaan menjadi semakin kompleks. Dari sini awal mulai berkembang ilmu dan teknik mengelola perpustakaan”.

Perkembangan dunia perpustakaan, jika dilihat dari segi data dan dokumen yang dimiliki, bermula dari perpustakaan tradisional yang hanya memiliki koleksi buku-buku tanpa adanya katalog untuk mengaturnya, kemudian muncul perpustakaan semi modern yang menggunakan katalog (index) dalam melakukan pengaturan dan pengelolaan koleksi. Menurut Lasa Hs (1997:2) katalog merupakan daftar yang dipersiapkan sedemikian rupa untuk tujuan tertentu. Katalog ini akan memudahkan pemakai jasa perpustakaan untuk mengenali dan mencari koleksi yang dimiliki suatu perpustakaan maupun pusat informasi. Perkembangan saat ini adalah munculnya perpustakaan digital (digital library) yang memiliki keunggulan dalam kecepatan pengaksesan karena berorientasi ke data digital dan media jaringan komputer (internet). Di sisi lain, dari segi manajemen (teknik pengelolaan), dengan semakin kompleksnya koleksi perpustakaan, saat ini muncul kebutuhan akan penggunaan teknologi informasi untuk otomatisasi business process di perpustakaan. Sistem yang dikembangkan kemudian terkenal dengan sebutan sistem otomasi perpustakaan (library automation sistem).

Peran perpustakaan sebelum dan sesudah masuknya Teknologi Informasi (TI)

Dahulu perpustakaan masih menggunakan kartu katalog, hal ini efisien jika koleksi masih sederhana tetapi seiring dengan perkembangan zaman maka koleksi perpustakaan semakin banyak dan kompleks sehingga diperlukan sistem untuk mengaturnya. Disini TI berperan dalam melakukannya dengan cara membangun pangkalan data. Tujuan dari pangkalan data adalah untuk mencatat (record) data dari semua koleksi yang dimiliki dan kemudian mengorganisirnya dengan menggunakan kaidah-kaidah ilmu perpustakaan. (Klasifikasi, katalogisasi, pengindeksan dll.) Pada sistem manual, proses ini dilakukan dengan menggunakan bantuan media kertas atau buku (Kartu katalog atau bibliografi). Tapi dengan proses manual ini pengelolaah data akan efektif jika data yang tersedia masih sedikit, akan tetapi jika data sudah banyak maka keefektifitasan sistem manual tidak berlaku karena akan timbul kesulitan dalam melakukan penelusuran data dengan cepat.

Revolusi teknologi informasi sangat berperan dalam dunia perpustakaan. Perpustakaan yang dulunya pasif menjadi lebih agresif dalam berinteraksi dengan penggunanya. Perkembangan teknologi informasi yang terjadi sepuluh tahun terakhir sangatlah pesat fenomena ini melebihi satu abad sebelumnya. Hampir semua aspek kehidupan telah dimasuki oleh teknologi. Perkembangan teknologi memberi kemudahaan dan kecepatan dalam memperoleh informasi. Teknologi memberikan dimensi yang lebih luas. Teknologi juga membuka jendela wawasan kita akan kehidupan dan perkembangan suatu bangsa yang terpisah ribuan bahkan jutaan mil dari tempat kita berada. Perkembangan teknologi menuntut perubahan pola pikir kita. Perpustakaan yang dahulu mewajibkan pengunjung untuk meluangkan waktu pada jam sibuk untuk meminjam buku dan harus tepat waktu untuk mengembalikannya, dengan kemajuan teknologi informasi maka semuanya dapat teratasi. Peminjaman buku tidak lagi mewajibkan anggota/pengguna untuk datang pada jam kerja, karena dimanapun dan kapanpun mereka membutuhkan literature mereka dapat meminjamnya dan tidak perlu takut untuk didenda karena lupa mengembalikannya karena dalam mengembalikan literature/koleksi (file-file dokumen yang berwujud digital) pengguna tidak harus mendatangi perpustakaan melainkan cukup melakukan transaksi di depan komputer yang telah terhubung ke internet dan pengguna tinggal mengunjungi situs dari perpustakaan itu untuk melakukan transaksi pengembalian koleksi. Teknologi akan melakukannya dengan sendirinya. Penggunaan teknologi akan mempermudah proses memasukkan data pada perangkat lunak pengolah data seperti : CDS/ISIS (WINISIS), SIPUS, Siprus, Senayan, Athenium Light, dll. Perangkat lunak ini akan membantu kita untuk mengelola pangkalan data ini menjadi lebih mudah karena proses pengindeksan akan dilakukan secara otomatis dan proses penelusuran informasi akan dapat dilakukan dengan cepat dan akurat karena perangkat lunak ini akan menampilkan semua data sesuai kriteria yang kita tentukan. Saat ini bermunculan software-software perpustakaan baik yang berbayar maupun gratis. Software-software ini sangat membantu dalam penerapan otomasi perpustakaan. Penerapan otomasi perpustakaan harus didukung dengan software perpustakaan dan akan lebih efisien jika didukung dengan adanya internet. Internet merupakan sebuah jaringan antar komputer yang memungkinkan kita untuk berkomunikasi satu dengan lain tanpa mengenal batas-batas institusi, negara, bangsa, ras, & birokrasi.

Otomasi Perpustakaan adalah sebuah sebuah proses pengelolaan perpustakaan dengan menggunakan bantuan teknologi informasi (TI). Dengan bantuan teknologi informasi maka beberapa pekerjaan manual dapat dipercepat dan diefisienkan. Selain itu proses pengolahan data koleksi menjadi lebih akurat dan cepat untuk ditelusur kembali. Dengan demikian para pustakawan dapat menggunakan waktu lebihnya untuk mengurusi pengembangan perpustakaan karena beberapa pekerjaan yang bersifat berulang (repetable) sudah diambil alih oleh komputer. Otomasi Perpustakaan bukanlah hal yang baru lagi dikalangan dunia perpustakaan. Konsep dan implementasinya sudah dilakukan sejak lama, namun di indonesia baru populer baru-baru ini setelah perkembangan Teknologi Informasi di Indonesia mulai berkembang pesat. (Nur (2007), dalam Suyoto). Berdasarkan penjabaran diatas dapat disimpulkan bahwa Otomasi perpustakaan (Library Automation) adalah pemanfaatan TI untuk kegiatan-kegiatan perpustakaan meliputi : pengadaan, pengolahan, penyimpanan dan menyebar luaskan informasi) dan mengubah sistem perpustakaan manual menjadi sistem perpustakaan terkomputerisasi. Sebuah perpustakaan yang hendak menjalankan proses otomasi perpustakaan maka harus ada sebuah perangkat lunak sebagai alat bantu. Perangkat lunak ini mutlak keberadaannya karena digunakan sebagai alat pembantu mengefisienkan dan mengefektifkan proses.

Peran perpustakaan di era generasi millennial dituntut untuk lebih aktif dalam memberikan layanan informasi yang dibutuhkan penggunanya. Dalam memberikan layanan kepada pengguna, perpustakaan harus mengacu pada efisiensi dan efektifitas waktu. Sehingga pengguna merasa terpuaskan dengan layanan yang ada. Sebagai contoh, ketika pengguna menginginkan sebuah informasi yang berkaitan dengan koleksi perpustakaan (dalam hal ini dapat berupa buku maupun file-file dokumen), Pengguna bisa menanyakan ke perpustakaan tanpa harus datang ke perpustakaan melainkan cukup dengan cara memanfaatkan layanan telpon, sms, chatting, e-mail, dll yang disediakan oleh perpustakaan. Disini pustakawan dituntut untuk berperan aktif dalam melayani kebutuhan penggunanya.

Generasi millennial adalah sebuah generasi dimana mereka berperilaku sebagai seseorang yang haus akan ilmu. Selalu menanyakan pertanyaan setelah pertanyaan. Generasi millennial sangat familier dalam menggunakan TI, mereka sangat bergantung pada teknologi. Saat ini perkembangan Teknologi Informasi dan komunikasi berkembangan sangat pesat, dahulu jika ingin mengakses internet kita harus ke warnet atau menggunakan komputer yang terhubung dengan internet. Sekarang kita dapat mengakses layanan internet melalui Handphone (HP)/mobile. Kemudahan-kemudahan inilah yang memunculkan istilah “Dunia dalam genggaman”, karena segala informasi dapat diakses dengan menggunakan HP dimanapun dan kapanpun kita membutuhkan informasi. Kemajuan-kemajuan teknologi ini seharusnya dapat dimanfaatkan oleh perpustakaan dalam meningkatkan layanannya. Sehingga dapat memacu perkembangan “perpustakaan/ilmu dalam genggaman”. Era generasi millennial merupakan era dimana setiap kegiatan apapun harus didukung oleh teknologi, sehingga mau tidak mau, suka tidak suka perpustakaan harus bermetamorfosa dalam perkembangan teknologi ini. Disinilah peran pustakawan sangat dibutuhkan, dalam transisi perpustakaan manual ke perpustakaan otomasi yang kemudian menuju perpustakaan digital.

Fenomena perpustakaan digital baru-baru ini menjadi trend dikalangan dunia perpustakaan di Indonesia. Perpustakaan yang dulunya masih menggunakan sistem otomasi perpustakaan berbasis desktop berbondong-bondong beralih menjadi sistem otomasi perpustakaan berbasis web. Keunggulan sistem ini adalah dapat diakses dimanapun dan kapanpun oleh anggota perpustakaan karena sistem ini menggunakan jaringan internet untuk menunjang operasionalnya. Sistem inilah yang dianggap paling cocok di era generasi millennial, mereka dapat memenuhi kebutuhan akan informasi dan koleksi perpustakaan dengan kemudahan dan kecepatan yang memadahi. Kelebihan ini akan tidak berarti sama sekali jika pustakawan yang notabennya sebagai pengelola tidak dapat memaksimalkan perannya sebagai administrator. Pembangunan software perpustakaan yang berbasis web ini tentunya harus mengacu pada visi misi lembaga induknya, misalkan lembaga induk perpustakaan ini adalah universitas maka perpustakaan harus dapat mendukung visi dan misi universitas yang menaunginya. Pendanaan, infrastruktur, dan sumber daya manusia dalam hal ini pustakawan, harus disiapkan sedemikian rupa sehingga sistem ini dapat berjalan sesuai rencana.

Paradigma pustakawan

Kemajuan TI juga membawa dampak terhadap profesi pustakawan. Paradigma yang terjadi di lingkungan profesi pustakawan dapat dianalisis dari adanya dukungan dan penolakan terhadap penerapan TI di dunia perpustakaan. Pihak yang menolak beranggapan bahwa mereka tidak percaya terhadap penerapan TI serta mereka mencoba menghindar karena mereka merasa khawatir kehilangan pekerjaan dan mereka takut jika TI diterapkan maka posisi mereka akan digantikan komputer maupun orang yang lebih menguasai TI. Sedangkan pihak yang menerima/antusias mereka menyadari akan kebutuhan jaman sehingga mereka tidak mau hanya akan menjadi penonton sehingga lambat laun mereka akan terjajah dengan adanya penerapan TI di perpustakaan. Hal ini lah yang memacu mereka untuk belajar dan akan menempuh diklat untuk mengasah keahlian dalam bidang TI. Penerapan TI di perpustakaan harus melibatkan staff dan pustakawan sejak dari perencanaan sampai dengan aplikasinya di perpustakaan.

Keahlian TI yang dimiliki seorang pustakawan hendaknya ditunjang dengan kemampuan manajemen yang baik. Suatu Perpustakaan jika tidak ditunjang dengan keahlian manajemen yang baik maka perpustakaan itu lambat laun akan mengalami “stagnan” tidak dapat berkembang. Hal inilah yang di kemudian hari memunculkan jarak antara kebutuhan pengguna dengan literature yang ada di perpustakaan. Perpustakaan hendaknya melakukan trobosan-trobosan guna mengantisipasi perkembangan zaman yang secara tidak langsung juga berpengaruh pada kebutuhan pengguna yang semakin kompleks. Era generasi millennial menuntut pelayanan yang cepat dan efisien. Era generasi millennial adalah era dimana kemudahan-kemudahan disajikan sedemikian rupa, sehingga waktu sangatlah berharga. Tidak ada jarak, tidak ada batasan waktu kunjung merupakan kelebihan dari perpustakaan digital. Sehingga perpustakaan terasa ada di genggaman penggunanya. Anggota perpustakaan dapat mengakses perpustakaan hanya dengan HP yang telah terhubung ke internet. Mereka dapat melakukan transaksi peminjaman, pengembalian, pemesanan koleksi, usulan penambahan koleksi, serta mereka juga dapat membaca koleksi e-book, jurnal online, dan literature-litaretur yang dimiliki perpustakaan hanya melalui layar HP mereka. Kemudahan inilah yang seharusnya disediakan oleh perpustakaan kepada penggunanya, sehingga mereka dapat mengakses perpustakaan setiap saat.

Peran teknologi informasi yang sangat besar dikhawatirkan oleh sebagian pustakawan akan mengambil alih peran mereka. Kekhawatiran ini wajar adanya, karena hampir seluruh transaksi dilakukan secara online maka peran pustakawan menurut mereka akan digantikan komputer.

Penutup

Semua perubahan pastilah membawa efek negative dan positif, demikian pula perubahan yang terjadi di dunia perpustakaan. Ketidaksiapan salah satu komponen saja bisa berakibat fatal, sebagai contoh ketidak siapan pustakawan dalam menerapkan software otomasi berbasis web. Ketidak siapan ini dapat berupa ketidak siapan skill, jika kemampuan pustakawan tidak didukung dengan skill yang memadai maka peran pustakawan sebagai administrator tidak akan efektif. Ketidak efektifan ini akan menimbulkan kerugian pada pengguna/anggota perpustakaan karena sistem otomasi ini tidak berjalan efektif dalam melakukan layanan. Era generasi millennial akan menuntut layanan serba praktis dan cepat, disini perpustakaan dituntut menyediakan layanan yang dapat memuaskan penggunanya. Kehadiran Teknologi informasi haruslah dimanfaatkan seoptimal mungkin dalam menunjang pengelolaan perpustakaan. Keharusan menguasai Teknologi informasi membuat pandangan sebagian pustakawan “pasrah” hal ini biasanya melanda para pustakawan yang berpikiran sempit dan pesimis, ketakutan-ketakutan yang terlalu berlebih juga merupakan efek samping dari penerapan teknologi informasi, mereka beranggapan jika semua kegiatan pengolahan perpustakaan dapat diganti oleh komputer maka lambat laun posisi pustakawan akan tersingkir. Sebenarnya hal ini dapat diatasi dengan cara memerankan pustakawan sebagai administrator. Perlindungan hukum tentang profesi pustakawan sebenarnya sudah diatur dan dijamin oleh undang-undang perpustakaan nomor 43 tahun 2007, jadi sekarang semuanya kembali ke pribadi masing-masing pustakawan. Akan ikut arus atau melawan arus teknologi?.

DAFTAR PUSAKA

Lasa Hs. 1997. Pedoman Katalogisasi Perpustakaan Muhammadiyah Monograf dan Terbitan Berkala. Yogyakarta: Majelis Pustaka.

Wahono, Romi Satria. (2006); Teknologi Informasi untuk Perpustakaan:Perpustakaan Digital dan Sistem Otomasi Perpustakaan. romi@romisatriawahono.net http://romisatriawahono.net, diakses tanggal 15 Februari 2010, pukul 15:00 WIB.

Wulandari, Permata. (2008); Sebuah Fenomena Baru Akan millennial. http://vibiznews.com/search_result.php?id=134&kategori=hr&key=, diakses tanggal 15 Februari 2010, pukul 15:25 WIB.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: