WAH

“WAH”

Wah……….
Wah……….
Wah ladalah
Wah………

Sinar itu menyusup disela-sela lubang pertolongan
Hangat walau hanya bermakna ironis ditengah-tengah serbuan dingin musim pancaroba
Tangan-tangan pertolongan hanya sebatas ilusi
Keyakinan membunuh keputusasaan

Tangisan, hanya sebatas air mata darah nan mengering
Teriakan, hanya sebatas robeknya pita suara
Sudahlah semua hanya hiasan kehidupan
Sudah saatnya kita berkemas…. WAH….

Jogja, 16-06-2011

Kinerja, Kerja, Pekerja

Kau rela terima uang dari apa yang telah kau lakukan

Kau rela menduduki jabatan dari apa yang telah kau tujukkan

Kau rela menderita demi teman

kau rela dipuji dari apa yang tidak kau lakukan

Kau mengeluh jika setetes keringatmu keluar tanpa uang

Kau memaki jika kebijakan mengganggu kesenanganmu

Kau protes jika sedetik waktumu terambil tanpa lemburan

Kau teriak jika aspirasi pribadimu tak digubris

Kau pandai menghilang disaat dibutuhkan

Kau pintar berargumen jika kekacauan timbul

Kau ahli berakting untuk menghindar dari kewajibanmu

Kau sigap dalam mencari kambing hitam

Kau tak sadar telah salah

Kau tak sadar dirimu hina

Kau tak sadar telah menimbun penyakit

Kau tak sadar ajalmu mendekat

Misteri di Balik Punggungmu

Jalanmu seakan ringan tanpa beban

Melangkahkan kaki tuamu dengan tersendat

Wajahmu tertunduk letih menatap kedepan

Hanya senyummu yang terus kau kembangkan

       Sesekali kau berhenti sekedar membasuh keringatmu

       Walau sebenarnya keringatmu sudah habis terkuras

       Tinggal air mata yang tersisa

Hari tuamu sudah semakin dekat

Namun tugasmu belum tuntas

Kapankah kau akan berhenti menguras keringatmu?

Kapankah misteri dibalik punggungmu kau akhiri?

Biarlah buah hatimu yang melanjutkannya

       Apakah kau menunggu buah hatimu bersujud dan memohon agar kau berhenti

       Jika itu, maka akan ku lakukan demi baktiku padamu

by Buah Hati Yang Menangis